๐Ÿ• Jam Pelayanan: Senin - Jumat, 08:00
โ† Kembali ke Daftar Berita
๐Ÿ“ฐ BERITA ๐Ÿ“… 12 Agustus 2026 ๐Ÿ‘ค Administrator Desa Rejosari ๐Ÿ‘๏ธ 32 dilihat

Merajut Kehidupan dari Bambu, Kisah Empat Dekade Makde Rumanah Menekuni Anyaman

Empat dekade Makde Rumanah merajut kehidupan dari bambu. Di Desa Rejosari, Demak, ia menjaga keterampilan menganyam berbagai peralatan rumah tangga tradisional sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Merajut Kehidupan dari Bambu, Kisah Empat Dekade Makde Rumanah Menekuni Anyaman

Demak, 11 Agustus 2026 โ€” Di tengah perkembangan produk rumah tangga modern, kerajinan anyaman bambu masih bertahan di Desa Rejosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Salah satunya adalah usaha anyaman bambu milik Makde Rumanah yang telah dijalankan selama kurang lebih 40 tahun. Selama puluhan tahun, Makde Rumanah mengolah bambu menjadi berbagai kebutuhan rumah tangga tradisional, seperti tampah, tampir, aya'an, hirik atau kiring, ilir, wakul, dan budhak. Bambu yang digunakan dalam pembuatan produk tersebut didatangkan dari Magelang dan kemudian diolah secara manual hingga siap dianyam. Produk yang dihasilkan juga dijual dengan harga yang terjangkau, salah satunya tampah seharga Rp20.000, sedangkan tampir dibanderol sekitar Rp10.000. Hasil anyaman tersebut tidak hanya dijual langsung, tetapi juga diambil oleh sejumlah pedagang untuk kemudian dipasarkan ke pasar-pasar. Selain itu, ketika ada masyarakat yang hendak mengadakan hajatan dan membutuhkan peralatan anyaman bambu dalam jumlah tertentu, mereka biasanya memesan langsung kepada Makde Rumanah.
Bagi Makde Rumanah, menganyam bukan sekadar pekerjaan, melainkan keterampilan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya selama puluhan tahun. Ia mulai mengenal dan mempelajari keterampilan tersebut dari lingkungan di sekitarnya. Ketika ditanya mengenai siapa yang pertama kali mengajarinya menganyam, Makde Rumanah menjelaskan, โ€œYa teman-teman nduk, dulu-dulu awalnya ikut bantu orang tua, orang sini kebanyakan pada buat anyaman nduk kerjanya.โ€ Keterampilan tersebut kemudian ia ajarkan kepada anak-anaknya sejak kecil. โ€œYa, sudah lama 40 tahunan, dulu anakku juga tak suruh belajar buat, nduk, sampe tak bilang belum boleh keluar sebelum bisa buatnya,โ€ tutur Makde Rumanah saat menceritakan pengalamannya mengajarkan menganyam kepada anak-anaknya.
Proses pembuatan anyaman bambu dilakukan melalui beberapa tahapan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Bambu yang telah dipotong kemudian diolah menjadi bagian-bagian tipis sebelum dianyam helai demi helai. Tahapan tersebut dikenal dengan istilah ngeblek, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan pola hingga menghasilkan bentuk produk yang diinginkan. Setiap anyaman dibuat secara manual dengan mengandalkan keterampilan tangan dan pengalaman yang telah diperoleh selama bertahun-tahun. Dari proses tersebut, bambu yang awalnya hanya berupa bahan mentah dapat berubah menjadi berbagai peralatan rumah tangga yang memiliki nilai guna.
Keterampilan menganyam juga dimiliki oleh putri Makde Rumanah, Tuti Anah. Ia telah memiliki kemampuan membuat anyaman yang dipelajari dari keluarganya. Ketika ditanya mengenai kemungkinan meneruskan usaha anyaman tersebut, Tuti Anah mengatakan, โ€œMungkin iya, soalnya keterampilan yang saya bisa ya menganyam ini, mbak.โ€ Bagi Tuti, menganyam menjadi salah satu keterampilan yang ia kuasai. Sementara bagi Makde Rumanah, keterampilan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan pekerjaan yang ditekuni selama empat dekade.
Perjalanan Makde Rumanah dalam menekuni anyaman bambu menunjukkan bagaimana sebuah keterampilan tradisional dapat menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber penghidupan keluarga. Kini, produk-produk anyaman tersebut mulai diperkenalkan melalui media digital agar keberadaan usaha dan hasil kerajinan Makde Rumanah dapat dikenal lebih luas. Di balik setiap tampah, tampir, wakul, maupun produk lainnya, terdapat proses panjang yang dikerjakan dengan ketelitian dan kesabaran. Selama kurang lebih 40 tahun, Makde Rumanah terus merajut kehidupannya dari helai-helai bambu, menjaga keterampilan tradisional yang telah menjadi bagian dari kesehariannya di Desa Rejosari.

๐Ÿ“ค Bagikan Berita Ini

Butuh Surat Administrasi?

Ajukan online, kami proses cepat & transparan.

๐Ÿ“ Ajukan Surat Sekarang โ†’